06 Maret 2008

Untuk Hari Bumi Dan Masa Depannya
Tak ada yang tahu persis memang berapa usia bumi dan kapan ia “dilahirkan”, dan tiba-tiba saja tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi. Namun beberapa ahli bersepakat dan memperkirakan bahwa bumi telah ada sekitar 4,55 Milyar tahun yang silam. Sementrara itu organisma lainnya (tumbuhan dan hewan) baru mengikutinya setelah 60 juta tahun yang silam, dan baru kemudian manusia - dihitung sejak diciptakannya manusia pertama ( Nabi Adam) - yang konon ada sejak sekitar 1,5 juta tahun yang silam yakni pada jaman Palaeolitikum atau jaman Batu Tua.
Apabila diperbandingkan, maka usia keberadaan manusia sendiri berarti sekitar sepertigaribunya dari usia bumi atau seperempatpuluhnya dari usia tumbuhan dan hewan. Kelihatannya sangat singkat dan tidak begitu berarti. Namun demikian tengoklah peranannya dan apa yang telah dikerjakannya diatas muka bumi itu sendiri. Sejak masa Zaman Palaeolitikum, Mezolitikum, Neolitikum, Primitive, Kuno, hingga jaman Modern, (Postmodern?) kini, maka sejarah umat manusia antara 3000 tahun ( jaman Neolitikum Muda/ Jaman Perunggu) terakhirlah yang amat strategis dan paling menentukan pengaruhnya terhadap sistem kehidupan di muka bumi ini. Yakni jaman ketika sejak pertama kali manusia mengenal dan mengembangkan pengolahan bijih besi atau metalurgi. Hal ini sebagaimana diilustrasikan oleh Arnold Toynbee secara amat mengesankan………..
Pada awal jamannya (saat itu) semangat menemukan cara mengembangkan, mengolah dan memanfaatkan bijih besi semata-mata bertujuan untuk mengatasi keterbatasan peran perkakas primitif baik dari segi bentuk maupun jumlahnya yang biasanya dipungut dari alam berupa batuan alamiah, patahan kayu ataupun sisa tulang belulang hewan-hewan buruan. Namun demikian, seiring berkembangnya jaman, disusul ditemukannya teknologi pengolahan bahan baku baru lainnya , seperti teknologi pengolahan plastik, keramik, semikonduktor, hingga microchip dan sebagainya, sehingga manusia menjadi lebih mungkin untuk menciptakan perkakas dari bentuk dan keperluan yang paling sederhana hingga sekompleks pesawat ulang alik atau computer interaktif sekalipun. Sejak saat itu manusia terus mngembangkan dan menciptakan berbagai perkakas didalam mengatasi berbagai tantangan dan kebutuhan hidupnya hingga kini. Melalui itu pula manusia kini nyaris dapat memenuhi setiap kebutuhan dan keinginannya dari yang bersifat mendasar ( biologis) hingga pemenuhan kebutuhan psikologis, spiritualis, kemanusiaan, bahkan ideologis sekalipun, atau sekedar pemenuhan hasrat sesaat, hobbies, hedonisme dan fetishisme.
Tinggi dan pesatnya apa yang telah dicapai manusia didalam menguasai teknologi (perekayasaan) dan informasi telah mampu mengantarkan manusia hingga sampai kepada suatu bentuk peradaban sebagaimana yang dapat kita lihat, rasakan dan hayati kini. Ganasnya samudera, tingginya gunung, dalamnya lautan dan luasnya jarak dan ruang bumi bahkan ruang angkasa sekalipun nyaris kini sudah bukan kendala lagi bagi manusia . Dunia sepertinya sudah dilipat, demikian seperti digambarkan oleh Yasraf Amir Piliang. Dengan segala kelebihan serta kemampuannya didalam menguasai teknologi, kini manusia menjadi satu-satunya species yang paling “unggul”, “adaptif”, sekaligus “dominan” dimuka bumi ini. Kalaupun secara ironis nyatanya ia tetap saja tidak mampu untuk beradaptasi secara simultan dan utuh terhadap berbagai dampak dan “disorientasi” ekologis lainnya, baik itu yang terjadi secara alamiah maupun yang “diciptakan” oleh ulahnya sendiri. Banjir, kekeringan, longsor, wabah penyakit, kelaparan, gempa bumi, kebakaran, perang, kebocoran radioaktif, letusan gunung, dan sejenisnya telah menjadi ancaman serius bagi manusia. Untuk ini manusia sering mendefinisikannya sebagai musibah atau malapetaka (*padahal sesungguhnya alam tidak mengenal musibah atau malapetaka). Di posisi ini manusia nampak menjadi figure yang naif, di sisi lain ia sangat berkuasa namun di sisi yang lainnya ia tak berdaya. Manakala ia dengan bangga – bahkan sering kelewatan hingga menjadi sombong - menunjukkan berbagai hasil kemajuan yang dicapai dan diklaimnya, bersamaan dengan itu pula manusia menjadi nestapa pada saat dihadapkan dengan “musibah-musibah” yang diakibatkannya. Ia menjadi mahluk yang mudah sekali lupa dan sesungguhnya tidak begitu pandai didalam mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dan sejarahnya bahwa alam memiliki suatu kekuatan atas kehendak hukumnya sendiri. ( *sistem dinamis (dynamic system) atau ekologi dalam (deep ecology) menyebutnya kesetimbangan dinamis (dynamic equilibrium) atau enthropy, konsep Islam menyebutnya Sunatulllah).
Salah satu bukti kesembronoan dan keserakahan peran manusia atas biosfer bumi ini adalah ia telah mendorong meningkatnya suhu bumi (Global Warming) yang berdampak luas terhadap menurunnya kualitas dan daya dukung sistem kehidupan dimuka bumi ini. Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini saja para ahli menengarai kuat telah terjadi percepatan kenaikan suhu bumi dan musnahnya beberapa jenis tumbuhan dan hewan (biodiversity) yang dapat diperbandingkan dengan sekitar seratus kali lipatnya dari sejarah usia bumi dan sejarah biodiversity itu sendiri sebelumnya. ( Informasi mengenai issue ini dapat dilihat di laman : http://www.sciam.com/article.cfm?SID=mail&articleID=DEAF205F-E7F2-99DF-35C3B60FE3CC788B)
Pertanyaan menggelitik yang mungkin muncul adalah mengapa percepatan pengrusakan kualitas ekologis ini meningkat drastis dalam kurun 100 tahun terakhir ini? Tentunya tidak ada jawaban tunggal untuk itu, karena hukum alam itu sendiri terdiri atas atau dibangun oleh jaringan dan relasi berbagai peristiwa yang saling berinterelasi, berkorespondensi dan berinterdependensi baik secara keruangan maupun kewaktuan. Dan keterbatasan manusia untuk memahami betapa kompleksnya peristiwa-peristiwa itu saling membangun dan terhubungkan. Namun yang pasti sekecil apapun perilaku kita didalam sistem ekologi, maka alam akan menaggapinya sebagai reaksi penyeimbangan (resilence). Oleh karenanya sesungguhnya betapa sensitifnya perilaku alam, sehingga dengan indahnya Pritjof Capra mengilustrasikan bagaimana satu kepak sayap kupu-kupu di Cina dapat mempengaruhi badai di Florida. Apabila kita melihat kembali peran sejarah dan peradaban umat manusia, dan apa yang terjadi dalam kurun kurang lebih 100 tahun terakhir, maka penulis melihatnya dimulai sejak dimulainya era pencerahan (renaissance/aufklarung) sekitar abad ke-18 di Eropa (Barat) yang kemudian melahirkan semangat jaman (spiritualitas) dan ideologi modernisme, materialisme, liberalisme dan kapitalisme. Yakni lahirnya sistem keyakinan baru akan keunggulan sains dan teknologi yang dianggap mampu mengatasi dan menjawab setiap keterbatasan dan berbagai kendala hidup manusia, yang kemudian memicu berbagai penemuan baru, produktivitas tinggi yang kemudian mengakibatkan keberlimpahan produksi (overproduction), ekspansi dan perebutan pangsa pasar, yang berujung kepada kolonialisasi dan terjadinya peperangan. - dan banyak peperangan terjadi baik secara tegas maupun melalui wacana yang dipalsukan (demagogi) diselimuti oleh semangat dan hasrat ini, apapun namanya perang dingin ( cold war) maupun perang “panas” (dog war) sekalipun-. “Kegilaan” akan inovasi, eksploitasi, ekspansi ruang dan pasar, kesembronoan penatagunaan lahan, sering kali bukan saja merusak dan memusnahkan alam secara biologis, lebih jauh bahkan seringkali menggusur niali-nilai spiritualitas, khasanah budaya dan kearifan local lainnya. Atas nama pembangunan, modernisme, liberalisme, world system, dan globalisasi kini hidup kita dipacu hingga seolah “kesetanan”/”kesurupan”. Motto: Siapa cepat ia dapat, cenderung membuat hidup menjadi tamak, sembrono dan tidak reflektif, karena menganggap seolah dunia berputar lebih cepat dari yang seharusnya, dan kita pun dituntut mengatasinya secepat waktu menyertainya. Bahkan Prahalad menyatakan if u don’t change, you will be died. Benar memang kita harus berubah, namun demikian lebih dari sekedar itu sedianya kita sadar, bahwasanya perubahan adalah merupakan sebuah keniscayaan dari hukum alam itu sendiri, sehingga Heraclitus dengan indahnya mengungkapkan bahwasanya tidak ada sesuatupun yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri. Oleh karenanya kita harus menyikapinya secara wajar, dewasa, dan bertannggungjawab. Toh artinya sia-sia saja kita bisa berubah tetapi tak mampu untuk mengendalikannya.
Apabila prinsip keadilan yang diciptakan manusia adalah mendapatkan hak yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang, maka mungkin harusnya keadilan ekologis dibangun lebih luas dari itu. Yakni bagaimana cara kita membangun dan merawat komunitas-komunitas yang berkelanjutan yang didalamnya kita dapat saling memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi kita tanpa menciutkan atau mengurangi kesempatan bagi yang lainnya dan generasi berikutnya dimasa depan, termasuk keadilan bagi mereka para gunung, lembah, hutan, sungai dan danau yang harus tetap berada ditempatnya, beserta seluruh mahluk yang mengisinya termasuk beruang, banteng, orang utan, ular, serangga atau ngengat sekalipun. Artinya, menawarkan kesempatan kepada diri kita masing-masing kehidupan yang lebih bernilai dan bermakna. Karena disini sangat jelas bedanya antara motif dan alasan ketika pohon itu tumbang tertiup angin atau seekor singa memangsa seekor rusa dengan cara manusia melakukannya.
Bumi ini mungkin cukup untuk tujuh generasi kedepannya, namun tidak akan pernah cukup bagi tujuh orang serakah dan tak bertanggungjawab.(Mahatma Gandhi).

Oleh,
A.Yadi Setiawan
Setiawanyadi@yahoo.com