<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7414436058925403270</id><updated>2012-02-16T15:03:36.191+07:00</updated><category term='environment'/><category term='Politik'/><title type='text'>Asdiawan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ysetiawan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7414436058925403270/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ysetiawan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>A. Yadi Setiawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7414436058925403270.post-620477481159644784</id><published>2008-03-06T16:18:00.000+07:00</published><updated>2008-03-06T16:19:53.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='environment'/><title type='text'></title><content type='html'>Untuk Hari Bumi  Dan Masa Depannya&lt;br /&gt;      Tak ada yang tahu persis memang berapa usia bumi dan kapan ia “dilahirkan”, dan tiba-tiba saja tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi. Namun beberapa ahli bersepakat dan memperkirakan bahwa bumi telah ada sekitar  4,55 Milyar tahun yang silam. Sementrara itu organisma lainnya (tumbuhan dan hewan) baru mengikutinya setelah 60 juta tahun yang silam, dan baru  kemudian  manusia - dihitung sejak diciptakannya manusia pertama ( Nabi Adam)  -  yang konon ada sejak sekitar 1,5 juta tahun  yang silam yakni pada jaman Palaeolitikum atau jaman Batu Tua.&lt;br /&gt;                Apabila  diperbandingkan,  maka usia  keberadaan manusia  sendiri berarti sekitar sepertigaribunya dari usia bumi atau seperempatpuluhnya dari usia tumbuhan dan hewan. Kelihatannya sangat singkat dan  tidak begitu berarti. Namun demikian tengoklah peranannya     dan apa yang telah dikerjakannya diatas muka bumi itu sendiri. Sejak masa Zaman   Palaeolitikum,   Mezolitikum, Neolitikum,   Primitive, Kuno,  hingga jaman Modern, (Postmodern?) kini,   maka sejarah umat  manusia antara 3000 tahun ( jaman Neolitikum Muda/ Jaman Perunggu)  terakhirlah  yang amat strategis dan paling menentukan pengaruhnya terhadap sistem kehidupan  di muka bumi ini. Yakni jaman ketika sejak pertama kali manusia mengenal dan mengembangkan  pengolahan bijih besi atau metalurgi. Hal ini  sebagaimana diilustrasikan oleh Arnold Toynbee secara amat mengesankan………..&lt;br /&gt;Pada awal jamannya (saat itu) semangat menemukan cara mengembangkan,  mengolah dan memanfaatkan bijih besi   semata-mata bertujuan untuk  mengatasi  keterbatasan  peran perkakas  primitif  baik dari segi  bentuk maupun jumlahnya yang biasanya  dipungut  dari alam berupa batuan alamiah, patahan kayu ataupun sisa tulang belulang hewan-hewan buruan.  Namun demikian, seiring berkembangnya jaman, disusul ditemukannya teknologi pengolahan bahan baku baru lainnya , seperti teknologi pengolahan  plastik, keramik, semikonduktor, hingga microchip dan sebagainya, sehingga manusia menjadi lebih mungkin untuk  menciptakan  perkakas dari bentuk dan keperluan  yang paling  sederhana  hingga sekompleks pesawat ulang alik atau  computer interaktif  sekalipun. Sejak saat itu manusia terus mngembangkan dan menciptakan berbagai perkakas didalam mengatasi   berbagai tantangan dan kebutuhan hidupnya hingga kini.  Melalui itu  pula manusia kini nyaris  dapat  memenuhi setiap  kebutuhan dan keinginannya dari yang bersifat mendasar ( biologis) hingga pemenuhan kebutuhan psikologis, spiritualis, kemanusiaan, bahkan ideologis sekalipun, atau sekedar  pemenuhan hasrat sesaat, hobbies,  hedonisme dan  fetishisme.&lt;br /&gt; Tinggi dan pesatnya apa yang telah dicapai manusia didalam menguasai teknologi (perekayasaan)  dan informasi telah mampu mengantarkan   manusia hingga  sampai kepada suatu bentuk peradaban  sebagaimana yang dapat kita lihat, rasakan dan hayati kini. Ganasnya samudera, tingginya gunung, dalamnya lautan dan luasnya jarak dan ruang  bumi bahkan ruang angkasa sekalipun  nyaris kini sudah bukan kendala lagi bagi manusia . Dunia sepertinya sudah dilipat, demikian seperti digambarkan oleh Yasraf Amir Piliang.   Dengan  segala kelebihan serta kemampuannya didalam menguasai teknologi, kini manusia menjadi satu-satunya species yang paling  “unggul”, “adaptif”, sekaligus “dominan”  dimuka bumi ini. Kalaupun secara ironis nyatanya ia tetap saja  tidak mampu untuk beradaptasi secara simultan dan utuh terhadap  berbagai  dampak dan “disorientasi” ekologis lainnya,  baik itu yang terjadi secara alamiah  maupun yang “diciptakan” oleh  ulahnya sendiri.  Banjir, kekeringan,  longsor, wabah penyakit, kelaparan, gempa bumi, kebakaran,  perang, kebocoran radioaktif, letusan gunung, dan sejenisnya telah menjadi ancaman serius bagi manusia. Untuk ini manusia sering mendefinisikannya sebagai musibah atau malapetaka (*padahal sesungguhnya alam tidak mengenal musibah atau malapetaka). Di posisi ini manusia nampak menjadi figure yang naif, di sisi lain ia sangat berkuasa namun di sisi yang lainnya ia  tak berdaya.  Manakala  ia dengan bangga – bahkan  sering kelewatan hingga  menjadi sombong -  menunjukkan   berbagai hasil kemajuan yang dicapai dan diklaimnya,   bersamaan dengan itu pula manusia  menjadi nestapa pada saat dihadapkan dengan “musibah-musibah” yang diakibatkannya. Ia  menjadi mahluk yang mudah sekali lupa dan  sesungguhnya tidak begitu  pandai didalam mengambil pelajaran dari  setiap peristiwa dan sejarahnya bahwa alam memiliki suatu kekuatan atas kehendak hukumnya sendiri. ( *sistem dinamis (dynamic system)  atau  ekologi dalam (deep ecology)  menyebutnya kesetimbangan dinamis (dynamic equilibrium) atau enthropy,   konsep  Islam  menyebutnya    Sunatulllah).&lt;br /&gt;Salah satu bukti  kesembronoan dan keserakahan  peran manusia atas biosfer bumi ini adalah  ia telah mendorong  meningkatnya suhu bumi (Global Warming)  yang berdampak luas terhadap  menurunnya kualitas dan daya dukung sistem kehidupan dimuka bumi ini. Dalam     kurun  waktu 100 tahun terakhir ini saja para ahli menengarai kuat telah terjadi  percepatan  kenaikan suhu  bumi dan  musnahnya beberapa jenis tumbuhan dan hewan (biodiversity) yang  dapat diperbandingkan dengan sekitar seratus kali lipatnya dari sejarah usia bumi dan sejarah biodiversity itu sendiri sebelumnya.          ( Informasi  mengenai issue ini dapat dilihat di laman : &lt;a href="http://www.sciam.com/article.cfm?SID=mail&amp;amp;articleID=DEAF205F-E7F2-99DF-35C3B60FE3CC788B"&gt;http://www.sciam.com/article.cfm?SID=mail&amp;amp;articleID=DEAF205F-E7F2-99DF-35C3B60FE3CC788B&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Pertanyaan  menggelitik yang mungkin muncul adalah mengapa  percepatan pengrusakan kualitas ekologis ini  meningkat drastis dalam kurun 100  tahun terakhir ini? Tentunya  tidak ada jawaban tunggal untuk itu, karena hukum alam itu sendiri terdiri atas atau dibangun oleh jaringan dan relasi berbagai peristiwa yang saling berinterelasi, berkorespondensi dan berinterdependensi baik secara keruangan maupun kewaktuan. Dan keterbatasan manusia untuk memahami betapa kompleksnya peristiwa-peristiwa itu saling membangun dan terhubungkan. Namun yang pasti  sekecil apapun perilaku kita didalam sistem ekologi, maka alam akan menaggapinya sebagai reaksi penyeimbangan (resilence). Oleh karenanya sesungguhnya  betapa sensitifnya perilaku alam, sehingga  dengan indahnya Pritjof Capra mengilustrasikan bagaimana satu kepak sayap kupu-kupu di Cina dapat mempengaruhi  badai di Florida. Apabila kita melihat kembali peran sejarah dan peradaban  umat manusia, dan apa yang terjadi dalam kurun kurang  lebih 100 tahun  terakhir, maka penulis melihatnya   dimulai sejak dimulainya era pencerahan (renaissance/aufklarung) sekitar abad ke-18  di Eropa (Barat) yang kemudian melahirkan semangat jaman (spiritualitas) dan ideologi modernisme, materialisme, liberalisme  dan kapitalisme. Yakni lahirnya sistem keyakinan baru akan keunggulan sains dan  teknologi yang dianggap mampu  mengatasi  dan menjawab setiap keterbatasan dan berbagai kendala hidup manusia, yang kemudian  memicu berbagai penemuan baru,  produktivitas  tinggi yang kemudian  mengakibatkan keberlimpahan produksi (overproduction), ekspansi dan perebutan pangsa pasar, yang berujung kepada kolonialisasi dan terjadinya peperangan. - dan banyak peperangan  terjadi baik secara tegas maupun melalui wacana yang dipalsukan (demagogi) diselimuti oleh semangat dan hasrat ini, apapun namanya perang dingin ( cold war) maupun perang “panas”  (dog war) sekalipun-. “Kegilaan”  akan inovasi, eksploitasi, ekspansi ruang dan pasar, kesembronoan  penatagunaan lahan,  sering kali  bukan saja merusak dan memusnahkan alam secara biologis, lebih jauh  bahkan seringkali menggusur  niali-nilai  spiritualitas,  khasanah budaya  dan kearifan  local lainnya.  Atas nama pembangunan,  modernisme, liberalisme,  world system,  dan globalisasi kini  hidup kita dipacu hingga seolah “kesetanan”/”kesurupan”. Motto: Siapa cepat ia  dapat, cenderung membuat hidup menjadi tamak, sembrono dan tidak reflektif, karena menganggap seolah    dunia berputar   lebih cepat dari yang seharusnya, dan kita pun  dituntut mengatasinya secepat  waktu  menyertainya. Bahkan  Prahalad menyatakan   if u don’t change, you  will be died. Benar memang  kita  harus berubah, namun demikian  lebih dari sekedar itu sedianya  kita  sadar, bahwasanya perubahan adalah merupakan sebuah keniscayaan dari hukum alam itu sendiri, sehingga   Heraclitus dengan indahnya  mengungkapkan bahwasanya tidak ada sesuatupun  yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri. Oleh karenanya kita harus menyikapinya secara wajar,  dewasa, dan bertannggungjawab. Toh artinya sia-sia  saja kita  bisa berubah tetapi  tak mampu untuk  mengendalikannya.&lt;br /&gt;Apabila prinsip keadilan yang diciptakan manusia adalah mendapatkan hak yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang, maka mungkin harusnya  keadilan ekologis dibangun lebih luas dari itu. Yakni bagaimana cara kita membangun dan merawat  komunitas-komunitas yang berkelanjutan yang didalamnya kita dapat saling memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi kita tanpa menciutkan atau mengurangi kesempatan bagi yang lainnya dan generasi berikutnya dimasa depan,  termasuk keadilan bagi mereka para  gunung, lembah,  hutan,  sungai dan danau yang harus tetap  berada ditempatnya, beserta seluruh mahluk yang mengisinya termasuk beruang, banteng, orang utan, ular, serangga atau ngengat  sekalipun. Artinya, menawarkan  kesempatan kepada diri kita masing-masing kehidupan  yang lebih bernilai dan bermakna. Karena disini sangat jelas bedanya  antara  motif dan alasan   ketika pohon itu tumbang tertiup angin atau seekor singa  memangsa seekor rusa dengan cara manusia melakukannya.&lt;br /&gt;Bumi ini mungkin cukup untuk tujuh generasi kedepannya, namun tidak akan pernah cukup bagi tujuh orang serakah dan tak bertanggungjawab.(Mahatma Gandhi).&lt;br /&gt;                                                                                                                                                                                                                                 &lt;br /&gt;                                                                                                        Oleh,&lt;br /&gt;                                                                                                A.Yadi Setiawan&lt;br /&gt;                                                                                         Setiawanyadi@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7414436058925403270-620477481159644784?l=ysetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ysetiawan.blogspot.com/feeds/620477481159644784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7414436058925403270&amp;postID=620477481159644784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7414436058925403270/posts/default/620477481159644784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7414436058925403270/posts/default/620477481159644784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ysetiawan.blogspot.com/2008/03/untuk-hari-bumi-dan-masa-depannya-tak.html' title=''/><author><name>A. Yadi Setiawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7414436058925403270.post-7869918098179676279</id><published>2008-03-06T15:41:00.000+07:00</published><updated>2008-03-06T15:47:00.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='environment'/><title type='text'></title><content type='html'>VISI&lt;br /&gt;MEMBANGUN KOMUNITAS KEHIDUPAN YANG BERKELANJUTAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghubungan kembali dengan jaringan kehidupan berarti membangun dan merawat komunitas-komunitas yang berkelanjutan yang didalamnya kita dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi kita tanpa menciutkan kesempatan bagi yang lainnya termasuk generasi kita di masa depan. Artinya menawarkan kesempatan kepada diri kita masing-masing kehidupan yang lebih bernilai dan bermakna.&lt;br /&gt;Pritjof Capra&lt;br /&gt;Biasanya kita tidak terlalu banyak tanya dari mana asal makanan yang barusan saja kita makan, pakaian yang kita pakai, kendaraan yang kita gunakan, atau teknologi informasi yang kita akses. Demikian halnya semua tayangan berita dan iklan yang tiba-tiba hadir mewarnai suasana di masing-masing ruangan kita. Semuanya seolah tiba-tiba begitu saja ada dihadapan kita. Padahal makanan apa yang barusan yang kita makan, air yang kita minum, pakaian yang sekarang kita kenakan, handphone yang sekarang kita genggam, kendaraan yang barusan kita tunggangi atau berita yang barusan kita terima ternyata telah menempuh perjalanan begitu jauh dan melewati proses yang begitu rumit dan berliku sebelum ia benar-benar ada di hadapan kita. Kita jarang menyadarinya ternyata bakwan yang biasa kita makan, yang terbuat dari terigu, sayuran, garam, minyak goreng, dengan pemanas kompor minyak, dan seterusnya, jarang kita tanyakan lebih jauh dari mana dan dengan cara seperti apa semua bahan dasar itu akhirnya samapi ke tangan kita. Tidakkah kita pertanyakan kalau terigu yang kita peroleh berasal dari model kulturisasi pertanian dengan pemanfaatan bibit hasil rekayasa genetika, pemupukan dan pengendalian hama yang berbasis pestisida, di lahan seperti apa ia ditanam, bagaimana ia terkait mulai dari kebijakan kepanganan, standarisasi mutu dan patensi, kebijakan pemasaran, terkait dengan politik ekonomi dan perdagangan, dan seterusnya. Demikian halnya kita dapat memperpanjang setiap daftar pertanyaan-pertanyaan itu dengan cara yang sama terhadap sayuran, garam, minyak goreng, minyak tanah, pakaian, kendaraan, perhiasan, atau rokok yang bapak-bapak hisap dan pemantik api yang bapak-bapak gunakan. Semakin banyak dan semakin jauh daftar pertanyaan itu kita ajukan dan semakin mendasar kita berusaha menjawabnya, kemudian menaruhnya kedalam bingkai persepsi kita berkenaan dengan kaidah, prinsip, sistem nilai, ideologi, norma dan keyakinan kita, maka bisa jadi malah kita frustasi atau tidak sanggup mengkonsumsinya.&lt;br /&gt;Apa yang barusan saja diilustrasikan, bukan bermaksud menunjukkan sikap pesimisme dan mengecilkan harapan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, melainkan ingin menunjukkan bagaimana setiap peristiwa-peristiwa dan benda-benda yang ada di alam semesta ini terjalin dan berhubungan antar satu sama lainnya sehingga membentuk sebuah jejaring kehidupan yang rumit, kompleks sekaligus menakjubkan. Sehingga ini mengantarkan saya kepada suatu tesis bahwa tidak pernah ada sesuatu hal, baik itu benda ataupun peristiwa di dunia ini yang benar-benar dapat bersifat mandiri ( otonom), tunggal dan independen sepenuhnya, baik itu yang terlekat secara keruangan maupun kewaktuan. Artinya dari segi kewaktuan tidak pernah ada satu peristiwa yang lepas begitu saja dengan peristiwa lainnya dimasa lalu, kini dan kedepannya, demikian halnya dari segi keruangan, tidak pernah ada suatu benda yang benar-benar dapat “menjadi dirinya” secara mandiri tanpa hubungan, dukungan, atau keterlibatan dengan benda-benda lain disekitarnya. Ini yang memperkuat satu bukti juga bahwa apa yang kita lakukan disuatu waktu dan di suatu tempat maka ia akan berdampak terhadap situasi di suatu waktu dan tempat tertentu lainnya, sehingga implikasi lebih jauhnya adalah apa yang kita dapatkan/terima saat ini adalah apa yang telah kita perbuat sebelumnya ( pada saat saya menyebut “kita” artinya “kita” sebagai manusia, berlaku baik bagi generasi kita, para pendahulu kita maupun generasi sesudah kita). Artinya pula , ini menunjukkan sekaligus menegaskan posisi kita sendiri sebagai manusia, bahwasanya manusia sekalipun ternyata samasekali tak memiliki arti atau makna apapun manakala ia tidak dihubungkan atau memiliki referensi dengan ruang waktunya, yakni masa lalu, masa depan dan lingkungan alamiah atau *ekositemnya. Sehingga makna hidup bagi manusia adalah pernyataan dirinya dengan jaringan dan kualitas hubungan-hubungan itu. Oleh karenanya tak heran apabila manusia sering disebut juga sebagai mahluk sang pencari makna. Namun demikian dimana dan dengan cara seperti apakah manusia itu dapat menemukan masing-masing makna kehidupannya.&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan Alfred Adler (2004), bermakna dan bernilainya kehidupan bagi manusia bukan sekedar ditakar kepada seberapa kita sukses lebih unggul dan mendapatkan dominasi dibanding yang lainnya, dan kemudian menikmatinya secara egois dan asal suka/nikmat (hedonis), melainkan sekaligus kemampuan kita menjadi berarti bagi individu dan komunitas-komunitas lainnya. Sehingga bermaknanya hidup bagi manusia manakala ia mampu untuk berbuat dengan benar (aktual menurut istilah Abraham Maslow).”Benar” disini hanya memiliki satu definisi kebenaran, yakni benar bagi manusia adalah baik bagi kehidupannya sesuai dengan maksud dan tujuan penciptaannya. Benar bagi manusia mensyaratkan setiap itikad dan perilaku itu baik bagi manusia itu sendiri, sehingga benar itupun tak lepas dari dimensi pertanggungjawabannya. Seandainya pun ada jenis kebenaran lain yang di klaim oleh manusia tetapi kemudian berdampak buruk bagi diri dan sesamanya , maka kemungkinan besar itu adalah kekeliruan, kecerobohan, kemunafikan atau keserakahan.&lt;br /&gt;Dilanjutkan dengan pendapat Capra, bahwa bermaknanya hidup kita manakala kita memiliki kesadaran betapa pentingnya diri kita dan orang-orang serta lingkungan yang ada disekitar kita. Untuk memahami dan menyadari hal tersebut, kita perlu belajar dari prinsip-prinsip dasar ekologi agar sedapat mungkin melek secara ekologis.&lt;br /&gt;Melek secara ekologis artinya memahami prinsip-prinsip pengaturan komunitas-komunitas ekologis (berupa ekosistem-ekosistem) dan menggunakan prinsip-prinsip itu untuk membentuk komunitas-komunitas manusia yang berkelanjutan. Oleh karenanya agar hidup kita menjadi bermakna,kita perlu merevitaslisai komunitas-komunitas kita – termasuk komunitas-komunitas kaum terpelajar, bisnis dan politik kita – sehingga prinsip-prinsip ekologi terwujud didalamnya sebagai prinsip-prinsip pendidikan, manajemen dan politik (Capra, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memahami hubungan adalah cara yang sama dengan memahami sistem. Dimana sistem itu sendiri adalah kesatuaan peristiwa, proses dan hubungan-hubungannya. Diawali dari cara kita memahami sistem seperti demikian, maka asusmsi sistem yang dimaksud adalah sistem yang memilki ciri hidup dan bersifat dinamis. Keduanya adalah merupakan jaringan yang tertutup sekaligus terbuka, artinya tertutup secara organisasional, tetapi terbuka bagi aliran energi, informasi dan berbagai sumberdaya.&lt;br /&gt;Patut disadari tentunya memang banyak perbedaan mendasar lainnya diantara ekosistem-ekosistem dengan komunitas-komunitas manusia. Karena tingkatan dimensi kehidupam manusia ( biologis, sosial dan spiritual) lebih luas dibanding organisma lainnya, dimana properties manusia dilengkapi dengan kognisi, afeksi dan akalbudi. Tak ada kesadaran diri pada ekosistem, tak ada bahasa, tak ada kebudayaan dan peradaban, karenanya tak ada keadilan dan demokrasi; tetapi juga tak ada ketamakan dan kecurangan. Yang dapat kita pelajari darinya adalah bagaimana menjalani kehidupan secara berkelanjutan. Kita dapat mnengambil pelajaran bagaimana selama lebih dari tiga milyar tahun , jauh sebelum manusia ada, ekosistem-ekosistem planet telah mengatur dirinya didalam cara-cara yang subtil dan kompleks sehingga mereka mampu memaksimalkan proses kehidupan yang berkelanjutan.&lt;br /&gt;Berdasarkan pada pengertian bahwa realitas kehidupan dibangun atas dasar adanya komunitas-komunitas yang terdiri dari ekosistem-ekosistem yang saling berinterelasi dan membentuk jaringan, maka dalam kontelasi sistem jaringan-jaringan tersebut ada dua ciri atau prinsip utama bagaimana suatu komunitas dapat hidup secara berkelanjutan, yakni ciri autopoietic dan ciri dissipative. Sistem dikatakan memiliki sifat autopoietic adalah manakal didalam keseluruhan kerja sistem, sistem selalu mencipta atau menggandakan identitas dirinya. Sedangkan memiliki ciri berstruktur dissipative adalah pernyataan sistem yang memiliki sifat tertutup sekaligus terbuka, tertutup bagi kontaminasi atau perlindungan bagi jatidiri sistem namun sekaligus terbuka bagi komunikasi dan aliran energi. Kedua ciri sistem ini menjadi penting didalam kacamata Deep Ecology sebagai gagasan bagi terwujudnya proses kesinambungan dan identitas atau jatidiri species-species atau individu-individu didalam komunitas secara keseluruhan. Atas dasar prinsip-prinsip itu, sebagaimana dikatakan Capra; ”kita dapat merumuskan sekumpulan prinsip pengaturan yang dapat diidentifikasi sebagi prinsip-prinsip dasar ekologi, dan menggunakannya untuk membangun komunitas manusia yang berkelanjutan”.&lt;br /&gt;Pertama prinsip sifat ketergantungan, dengan sifat-sifat esensial dari masing-masing organisma (anggota komunitas) melalui hubungan–hubungan yang luas dan rumit membentuk pola ketergantungan, yaitu jaringan kehidupan. Menyatakan bagaimana sesuatu terikat dengan sesuatu yang lannya. Ini yang harusnya menuntun kita kepada kesadaran bahwa adanya saya adalah syarat bagi adanya orang lain, dan semikian sebaliknya, sehingga menciptakan prinsip hubungan yang saling mengkondisikan (bikondisional). Keberhasilan maupun kegagalan dalam memelihara seluruh komunitas tergantung kepada komitmen anggota-anggota individualnya, sehingga memelihara dan melestarikan komunitas dianggap sebagai hak dan tanggungjawab bersama dan diterima secara *bersama-sama (bersama-sama dan bukan sekedar ”bersama”, karena belakangan bersama sering diasosiasikan menjadi berkonotasi parsial atau perwakilan (kifayah), padahal kewajiban membangun dan memelihara komunitas adalah merupakan hak dan tanggungjawab individual (a’in) sekaligus kolektif (komunal/kifayah)) sebagai sebuah konsekuensi komunitas secara keseluruhan. Memahami kesalingtergantungan berarti memahami hubungan-hubungan atau sistem relasi, memahami bagian menjadi keseluruhan , objek menjadi hubungan, dan isi menjadi pola.&lt;br /&gt;Fakta bahwa pola dasar kehidupan ialah suatu pola jaringan adalah bahwa hubungan-hubungan diantara para anggota suatu komunitas ekologis tidak bergerak hanya satu arah (linear), melainkan melibatkan putaran-putaran umpan balik yang berlipat ganda. Munculnya suatu gangguan bukanlah merupakan hubungan pola sebab-akibat tunggal, melainkan tersebar dalam pola-pola yang semakin luas, yang dibentuk dari putaran–puratan umpan balik yang saling tergantung, yang benar-benar dapat mengaburkan sumber asali gangguan yang terkadang membuat kesulitan bagi kita melihat suatu permasalahan secara lebih jelas.&lt;br /&gt;Sifat siklis proses ekologis adalah suatu prinsip penting didalam ekologi. Putaran-putarn umpan balik ekosistem adalah pola-pola yang mendaur ulang makanan yang dibutuhkan secara terus menerus. Sebagai sistem terbuka, semua organisma menghasilkan sampah, tetapi sampah yang satu adalah merupakan makanan bagi spesies lainnya. Sehingga ekosistem secara keseluruhan sinambung tanpa sampah. Hal ini menunjukkan pelajaran yang jelas bagi komunitas manusia. Pertentangan utama antara ekonomi, politik dan pembangunan dengan ekologi berasal dari fakta bahwa alam bersifat siklis, sementara sistem industri dan paradigma politik pembangunan kita cenderung dibangun secara linear. Ideologi pembangunan dan sistem politik kita ikut menopang mengelola sumberdaya dan mentransformasikannya menjadi produk-produk plus sampah. Karena produk rekayasa ini tidak harmoni atau selaras dengan sifat siklis hukum alam, maka karenanya banyak menciptakan masalah yang mutan dan sulit diselaraskan kembali, yang akhirnya menjadi bencana. Sebagai contoh, matahari, air dan udara adalah pembangkit sekaligus sumber utama aliran energi dalam ekosistem. Namun karena keserakahan dan ketamakan , melalui dalih peningkatan kemaslahatan atau sekedar keuntungan finansial belaka , didepolitisasi menjadi demagogie (pemalsuan wacana) menjadi kapling-kapling privat yang diubah dan direkayasa menjadi produk komersial plus sampah ( contoh: air minum kemasan, oksigen murni kemasan (Oxyplus), dan sejenisnya). Privatisasi, industrialisasi, globalisasi, dan liberalisasi pasar ( yang disokong oleh ideologi modernisme, globalisme, liberalisme dan kapitalisme) kadang tidak memberikan informasi yang seimbang bagi konsumen atau publik secara umum, karena jelas satu-satunya tujuan mereka adalah mencari keuntungan secara ekonomis. Produk-produk hasil privatisasi, industrialisasi, globalisasi dan pasar bebas dikonsumsi oleh seluruh khalayak umat manusia, plus sampah yang melahirkan berbagai masalah lingkungan dan kesenjangan sosial . Akhirnya apa yang disebut sebagai kemajuan dan peradaban harus ditebus dengan biaya rehabilitasi lingkungan dan sosial yang lebih mahal dibanding biaya dan keuntungan produksi itu sendiri.&lt;br /&gt;Prinsip ekologi yang lainnya adalah kemitraan (partnership). Perubahan-perubahan siklis energi dan sumber daya yang ada didalam ekosistem akan berkelanjutan karena adanya kerjasama kemitraan (partnership). Teori evolusi membuktikan, bahwa sejak penciptaan sel berinti satu telah bekerjasama hampir dua milyar tahun dan menciptakan berbagai species dan organisma yang kita kenal saat ini melalui susunan kerjasama dan ko-evolusi yang sangat luas dan rumit. Kemudian dalam komunitas manusia kita dapat menirukannya, dimana kemitraan berarti demokrasi dan gotong royong atau tanggung renteng.&lt;br /&gt;Seiring dengan berlangsungnya kemitraan, tiap mitra akan belajar dan saling berempati, sehingga ia semakin mengerti lebih baik kebutuhan-kebutuhan mitra lainnya. Dalam suatu kemitraan yang sejati dan komit, kedua pihak yang bermitra belajar bersama dan saling menyokong didalam melakukan perubahan – mereka berkembang bersama. Dalam kehidupan sosial politik, apapun lembaganya, bagaimana pun bentuk dan struktur organisasinya, apabila secara keseluruhan menyadari dan dapat memahami peran masing-masing didalam ’peran ekologisnya’, maka kerangka fikir ini akan sangat membantu kita terhadap dipilihnya berbagai macam alternatif strategi dan pencapaian yang diharapkan, betapapun masalah dan tantangan itu rumit dan beratnya. Sebagaimana prinsip dasar ko-evolusi, masing-masing sub-sistem adalah pemegang peran yang strategis didalam sebuah sistem diatasnya yang lebih besar. Didalam kerja sistem, tidak ada suatu sub-sistem tertentu yang dianggap inferior ataupun superior, ordinasi ataupun sub-ordinasi diantara yang lainnya, karena itu pula tidak ada preskripsi, dominasi dan sabotase peranan. Semua anggota komunitas bersemangat dan rela untuk melaksankan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing, itu lebih karena ia merasa satu bagian untuk keseluruhan ( one for all, all for one).Sebuah sistem yang lebih besar adalah merupakan perwujudan sokongan (kontribusi) dan kerjasama - mengalirnya sumberdaya dan energi - antar bagian-bagiannya secara proporsional. Demikian halnya manakala membangun suatu komunitas sosial yang berkelanjutan (*sustainable development: sebuah konsep pembangunan yang meletakan dasar /prinsip pemenuhan kebutuhan saat ini dengan tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan dimasa mendatang, namun beberapa pihak masih menganggapnya sebagai sebuah konsep yang sumir karena terkait dengan sejarah dan agenda ideologi yang ada di belakangnya), baik dimulai dari skala global maupun sebaliknya, adalah pernyataan yang sama bagaimana prinsip-prinsip penyelenggaraan sistem ekonomi, politik, agama, pendidikan, dan seterusnya didasarka atas dasar prinsip-prinsip itu.&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip ekologi yang diutarakan sejauh ini – kesalingtergantungan, aliran siklis sumber daya, kerjasama dan kemitraan - semua adalah aspek yang berbeda dari pola pengaturan yang sama. Begitulah cara ekologi memiliki tendesi terhadap keberlangsungan dan pelestarian species-species – termasuk species manusia. Sekali kita telah memahami pola ini, kita dapat mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan mendalam. Sebagai contoh, mengapa kita sering dilanda bencana ? bagaimana proses bencana terjadi? Bagaimana upaya alam menyeimbangkan kembali (menanggapi) ketidakseimbangan akibat adanya gangguan didalam komunitas sebagai prinsip daya pemulihan (resilence)? Bagaimana suatu gangguan keseimabngan terjadi dan dari mana asal-muasal sumber gangguan? Dalam dimensi sosial, bagaimana menyelamatkan kebudayaan dan peradaban dari ancaman kepunahan? Bagaimana strategi ekonomi, politik, pendidikan dan berbagai dimensi pembangunan lainnya agar tetap dapat diselaraskan? Pertanyaan-pertanyaan demikian membawa kita kepada dua prinsip ekologi selanjutnya, yaitu fleksibilitas dan keragaman.&lt;br /&gt;Fleksibilitas suatu ekosistem adalah konsekuensi dari putaran-putaran umpan balik yang berlipat ganda, yang cenderung membawa sistem kembali kepada keseimbangan apabila terjadi penyimpangan dari kondisi normalnya, yang diakibatkan berubahnya kondisi lingkungan. Contoh, jika kehangatan musim panas terjadi secara tak biasa, beberapa spesies ikan yang memakan ganggang akan tumbuh subur dan berkembang biak lebih dari biasanya, sehingga populasinya meningkat dan kembali mempercepat menghabiskan ganggang. Ketika ganggang yang menjadi sumber makanan ikan mulai habis, ikan mulai banyak yang mati dan menurunkan kembali jumlahnya. Seiring banyaknya ikan yang mulai mati, giliran kembali ganggang bereproduksi. Demikian selanjutnya , dengan cara ini ganggang semula yang menyebabkan suatu fluktuasi disekitar putaran umpan balik, pada akhirnya membawa sistem ikan dan ganggang kembali kepada keseimbangan.&lt;br /&gt;Gangguan-gangguan sejenis ini terjadi sepanjang waktu, karena benda-benda didalam lingkungan berubah sepanjang waktu, dengan demikian efek jaringan terus menerus berfluktuasi. Semua variabel yang dapat kita observasi didalam suatu ekosistem – kepadatan populasi, iklim dan pola cuaca, pola konsumsi BBM, sistem kekuasaan dsb,- bagaimana satu faktor mempengaruhi faktor lainnya akibatnya setiap gejala atau peristiwa selalu mengalami fluktuasi. Semakin banyak variabel yang terus berfluktuasi, semakin dinamis sistemnya; dan semakin besar fleksibilitasnya, dan semakin besar kemampuannya untuk beradaftasi terhadap kondisi perubahan lingkungnnya.&lt;br /&gt;Namun perlu diingat bahwa alam pun tetap memiliki hukum dan batasnya sendiri, itu beralasan demi tujuan dan kelangsungan ekologis yang lebih luas, jauh dan kompleks. (Jadi pelajaran pengantar ilmu ekonomi yang dulu pernah kita terima dan menyatakan bahwa air dan udara adalah benda bebas, kini sudah mulai dipertanyakan keabsahannya). Semua fluktuasi ekologis terjadi diantara batas-batas toleransi. Senantiasa ada bahaya bahwa seluruh sistem akan runtuh ketika suatu fluktuasi melampaui batas toleransinya, sistem tidak lagi mampu menopang dan menanggulanginya, hingga pada titik ini species atau organisma tak lagi mampu beradaptasi. Hal yang sama berlaku bagi komunitas manusia, kurangnya fleksibilitas sering menimbulkan ketegangan (strain) dan akibatnya menjadi tertekan ( stress) - dalam konteks yang lain stress dapat pula dianggap sebagai situasi krisis. Secara khusus, stress akan terjadi ketika suatu variabel sistem didorong hingga mencapai batas nilai ekstrimnya, yang menyebabkan meningkatnya kekuatan diseluruh bagian sistemnya. Stress yang sementara adalah aspek kehidupan yang essensial, tetapi stress yang berkepanjangan (akut) akan berbahaya, kronis dan destruktif. Demikian ibarat yang sama munculnya tantangan (strength) didalam teori konflik, baik individu, institusi maupun sosial. Pertimbangan-pertimbangan ini memunculkan suatu kesadaran yang penting bahwa mengelola suatu sistem sosial, - perusahaan, politik, mengelola perkotaan atau pun pembangunan - berarti menemukan nilai-nilai optimal bagi variabel-variabel sistemnya. Jika suatu kebijakan mencoba memaksimalkan sebuah variabel tunggal dan bukan mengoptimalkannya, maka hal ini akan tetap membawakan penghancuran bagi sistem secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Prinsip stabilitas juga mengandaikan suatu strategi yang tepat untuk memecahkan konflik. Dalam setiap komunitas, akan ada kontradiksi dan konflik yang tak berkesudahan, yang tak dapat dipecahkan dengan memenangkan satu pihak atau sisi saja. Contohnya, komunitas akan membutuhkan stabilitas dan perubahan, keteraturan dan kebebasan, tradisi dan inovasi. Ketimbang melalui putusan-putusan yang kaku, konflik yang tak terhindarkan ini lebih baik dipecahkan dengan membentuk suatu keseimbangan dinamis. Kemelekan ekologis meliputi pengetahuan bahwa kedua sisi yang berkonflik bersifat penting, tergantung konteksnya, dan bahwa kontradiksi-kontradiksi dalam suatu komunitas merupakan tanda-tanda keberagaman dan vitalitasnya, dengan demikian, menyumbang bagi kelanjutan kehidupan.&lt;br /&gt;Di dalam ekosistem peran keberagaman terkait erat dengan struktur jaringan sistem. Sebuah ekosistem yang beragam juga mempunyai daya pulih yang cepat, karena ia memuat banyak spesies yang mempunyai fungsi ekologis yang tumpang tindih sehingga sebagian dapat menggantikan yang lain. Ketika suatu spesies khusus dihancurkan oleh beberapa gangguan sehingga suatu mata rantai dalam jaringan terputus, maka suatu komunitas yang beragam akan dapat bertahan hidup dan mengatur dirinya kembali, karena mata rantai yang lain didalam jaringan itu setidaknya sebagian dapat menggantikan fungsi spesies-spesies yang hancur. Dengan kata lain, semakin kompleks jaringan, semakin kompleks pula kesalingterkaitannya, semakin kuat daya pulihnya.&lt;br /&gt;Di dalam ekosistem, kompleksitas jaringan merupakan konsekuensi keberagaman kehidupannya, dengan demikian suatu komunitas ekologis yang beragam adalah komunitas yang berdaya pulih kuat. Dalam komunitas-komunitas manusia, keberagaman kultural dan etnik dapat memainkan peran yang sama. Keberagaman berarti banyak hubungan berbeda, banyak pendekatan yang berbeda kepada persoalan yang sama. Suatu komunitas yang beragam adalah komunitas yang berdaya pulih kuat, mampu beradaptasi terhadap situasi-situasi yang berubah-ubah.&lt;br /&gt;Akan tetapi, keberagaman adalah keuntungan strategis hanya jika ada komunitas yang benar-benar bersemangat, yang dilestarikan melalui jaringan hubungan-hubungan. Jika komunitas itu dipecah-pecah menjadi kelompok-kelompok dan individu-individu yang terpisah-pisah, keberagaman dengan mudah menjadi sumber prasangka dan perselisihan. Tetapi jika komunitas menyadari kesalingtergantungan anggota-anggotanya, keberagaman akan memperkaya semua hubungan dan dengan demikian memperkaya komunitas sebagai suatu keseluruhan, demikian juga setiap anggota individunya. Dalam komunitas tersebut informasi dan ide-ide mengalir dengan bebas melewati seluruh jaringan, dan keberagaman interpretasi dan gaya belajar – bahkan keberagaman kekeliruan – sekaligus akan memperkaya khazanah komunitas.&lt;br /&gt;Oooo0000ooooo&lt;br /&gt;Oleh,&lt;br /&gt;A.Yadi Setiawan&lt;br /&gt;http://ysetiawan.blogspot.com&lt;br /&gt;Mail: Setiawanyadi@yahoo.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*ekosistem : berasal dari akar susku kata bahasa Yunai kuno, Oikos = Rumah Tangga, dan sistema atau system = proses atau hubungan timbal balik).&lt;br /&gt;**Ekologi : dari kata Yunani oikos (rumah tangga)- adalah studi mengenai rumah tangga. Tepatnya, ekologi merupakan studi mengenai hubungan-hubungan yang memperhubungkan segenap anggota rumah tangga Bumi. Istilah ini ditemukan tahun 1866 oleh biolog Jerman Ernst Haeckel, yang mendefinisikannya sebagai ilmu mengenai hubungan-hubungan diantara organisma dan dunia sekitarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7414436058925403270-7869918098179676279?l=ysetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ysetiawan.blogspot.com/feeds/7869918098179676279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7414436058925403270&amp;postID=7869918098179676279' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7414436058925403270/posts/default/7869918098179676279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7414436058925403270/posts/default/7869918098179676279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ysetiawan.blogspot.com/2008/03/visi-membangun-komunitas-kehidupan-yang.html' title=''/><author><name>A. Yadi Setiawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7414436058925403270.post-8464332076044072066</id><published>2008-03-06T14:58:00.000+07:00</published><updated>2008-03-06T14:59:18.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Makna Pilgub  Jabar 2008</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Hari Minggu tanggal 13 April&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2008 adalah hari yang direncanakan hajatnya masyarakat Jawa Barat dalam rangka pelaksanaan pemungutan suara atau lebih tepatnya ‘pemberian hak suara” pada pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur Jawa Barat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;periode 2008-20013. Hal ini sebagaimana telah diagendakan oleh KPU&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Provinsi Jawa Barat melalui &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Keputusan Komisi Pemilihan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Umum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jawa Barat No.8 Tahun 2007 Tentang Tahapan, Program dan Jadwal Waktu Penyelengaraan Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Tahun 2008. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; satu hal yang dapat dianggap istimewa kaitannya hajat ini dengan masa depan atau cita-cita warga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat “pasundan” kedepannya. Mengapa? Karena &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kalaupun sebelumnya warga Jabar ini sudah pernah atau beberapa kali &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;melakukan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;pengambilan hak suara secara langsung baik itu pada saat Pemilihan Legislatif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(DPR/DPRD) Tahun 2004, Pilpres 2004, atau bagi sebagian banyak yang daerahnya telah menyelenggarakan Pilkada langsung Kabupaten/Kota. Namun &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;demikian tetap saja momen ini adalah kesempatan yang pertama bagi warga amsyarakat Jawa Barat secara umum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk memilih pemimpinya sendiri melalui mekanisme pemilihan kepala daerahnya secara langsung. Lantas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;selain hanya berbeda dari aspek tatacara tentunya, adakah beda nilai signifikansi lainnya, misalnya terhadap masa depan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan pelayanan public atau pendidikan politik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi masyarakat di Jawa Barat kedepannya? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Adakah jaminan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau paling tidak sesuatu yang dapat diharapkan bahwa kepemimpinan pemerintah propinsi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jawa Barat kedepan bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih baik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibandingkan dengan masa-masa kepemimpinan sebelumnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Sedikit menengok ke belakang, apabila kita &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kembali melihat asusmsi dasar atau pengandaian mengapa pemilihan Kepala Daerah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan Wakil Kepala Daerah juga harus dilaksanakan secara langsung ( selain pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dan anggota DPR dan DPRD ). &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;beberapa pengandaian atau alasan mendasar untuk ini, diantaranya: P&lt;i style=""&gt;ertama&lt;/i&gt;, bahwa prasyarat untuk membangun kesejahteraan masyarakat dan membangun pranata masyarakat madani (&lt;i style=""&gt;civil society&lt;/i&gt;) adalah harus terbukanya peluang dan otoritas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;public yang cukup didalam memanifestasikan hak dan kewajibannya. Sehingga desentralisasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;politik (disamping desentralisasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;administrative/pemerintahan, ekonomi/pasar, fiskal/budgeting ) mutlak harus dilakukan bukan saja pada level pemerintahan paling bawah (kelurahan) saja, namun sekaligus menyentuh kepada dimensi kehidupan masyarakat secara utuh dan nyata. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, secara pragmatis terutama di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; terdapatnya beberapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenyataan kelemahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;didalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sistem demokrasi perwakilan (&lt;i style=""&gt;representative democration&lt;/i&gt;)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang penyelenggaraannya banyak disalahmanfaatkan ( kalau tidak ingin disebut dibajak) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;oleh para wakil rakyat sendiri. Sehingga banyak masyarakat yang merasa kecewa dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tidak sepenuhnya merasa terwakili&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika para pejabat publik mengambil keputusan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau menentukan kebijakan publik. Padahal perlu diketahui bahwa visi pembangunan polik beradab ( &lt;i style=""&gt;civil polities&lt;/i&gt;) lebih megutamakan sistem demokrasi reperesentatif, dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hal itu sejalan dengan pembangunan masyarakat terpercaya ( &lt;i style=""&gt;trust society&lt;/i&gt;)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimana keduanya diandaikan sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pilar-pilar penguatan modal sosial (&lt;i style=""&gt;social capital&lt;/i&gt;)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam rangka menciptakan masyarakat berkeadaban (&lt;i style=""&gt;civil society/&lt;/i&gt;masyarakat madani). &lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dipilih secara langsung oleh pemilihnya (konstituen) akan memiliki legitimasi yang relatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kuat, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sehingga otoritas pemerintah memiliki kecenderungan lebih stabil dan tidak mudah dirongrong atau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;digoyahkan. &lt;i style=""&gt;Keempat&lt;/i&gt;, karena rakyat terlibat langsung didalam memilih dan menentukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemimpinnya sendiri, atau dengan kata lain masyarakat ikut menentukan didalam pengisian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pejabat publik, maka proses akuntabilitasnya kepada konstituen atau ke hadapan publik akan menjadi lebih nyata dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;konkret. Dengan demikian lebih memungkinkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adanya dorongan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan komitmen yang kuat agar dana-dana publik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dikelola pemerintah sebagaian besar dapat dialokasikan untuk kepentingan publik juga, bukan untuk kepentingan birokrasi seperti yang selama ini terjadi. ( Kiranya perlu diketahui pula bahwasanya hampir semua sistem anggaran yang dikelola oleh pemerintah kini, baik di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pusat maupun Daerah,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;skema&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anggran antara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;alokasi pembiayaan untuk belanja &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;birokrasi dengan belanja publik atau belanja pembangunan memiliki komposisi rata-rata sekitar 70 : 30 persen). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Disisi yang lain, secara bersamaan dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan tanpa mengurangi arti dan nilai strategis bentuk desentralisasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lainnya, mengapa desentralisasi politik memiliki makna khusus didalam proses pendidikan politik bagi warga, selain karena adanya pengandaian/argumen filosofis dimana desentralisasi hakikatnya secara mendasar adalah merupakan suatu upaya mendudukan kembali kedaulatan rakyat (&lt;i style=""&gt;souvereignity of peoples&lt;/i&gt;). Oleh karenanya proses pembagian kekuasaan dan pendelegasian kewenangan dalam suatu negara seharusnya diletakkan kepada pengembalian hak-hak dasar rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang tertinggi dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hakiki dalam bentuk-bentuk kompensasi publik yang setimpal. Selain itu, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;desentralisasi politik &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sering&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;dimaknai &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pula &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebagai suatu spirit sekaligus instrumen pelaksana bagi ide-ide dasar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peletakan azas demokrasi, sehingga didalamnya memuat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengandaian prinsip-prinsip: &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, pengakuan terhadap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepentingan individual masyarakat, termasuk kepentingan hakiki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat dalam mengambil bagian penting&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;urusan publik (pemerintahan); K&lt;i style=""&gt;edua,&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai bentuk penghormatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;negara terhadap persamaan hak dan kedudukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;setiap warga negara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;politik, pemerintahan, didepan hukum dan dalam bidang ekonomi; K&lt;i style=""&gt;etiga&lt;/i&gt;, sebagai bentuk kontrak kepentingan (&lt;i style=""&gt;neccesity of compromise&lt;/i&gt;) antara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;negara dengan warganya; K&lt;i style=""&gt;eempat &lt;/i&gt;, cara rakyat meminta dengan tegas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengembalian kebebasan hakiki dan individualnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;insistence of individual&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;freedom&lt;/i&gt;). Sehingga maksud diselenggarakannya desentralisasi politik adalah memberikan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;perlindungan hak-hak dasar individu baik sebagai warganegara (&lt;i style=""&gt;citizen&lt;/i&gt;)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maupun sebagai masyarakat (&lt;i style=""&gt;society&lt;/i&gt;). (Hak-hak dasar itu diantaranya: mendapatkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kesetaraan kedudukan didalam hukum,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesempatan yang sama dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bela negara,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;partisipasi dan pengisian didalam jabatan public, kebebasan berkumpul dan berpendapat (berasosiasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan beraspirasi), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mendapatkan kehidupan dan penghidupan yang layak serta mendapatkan perlakuan adil, layak dan setara didalam pelayanan publik).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;Konsep pembangunan sering diasosiasikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai perubahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sosial yang memilki suatu arah atau tujuan tertentu (Sztompka,2004). Pembangunan dalam konteks negara bangsa (nasionalisme) diasosiasikan pula sebagai dimensi-dimensi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehidupan ber-Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan, Keamanan dan Pemerataan &lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;(IPOLEKSOSBUDHANKAMRATA) secara integratif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedangkan pembangunan konteksnya dengan politik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sehingga menjadi konsep pembangunan politik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tiada lain adalah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bagaimana menciptakan relasi-relasi kepentingan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;didalam&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;dimensi kehidupan sosial (berpolitik) agar menjadi lebih tertib (tertib politik) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkeadaban (&lt;i style=""&gt;civil polities&lt;/i&gt;) sebagaimana disintesakan oleh John Lock dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Huntington&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Yakni bagaimana &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;memaknai kehidupan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;politik agar menjadi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sarana atau media membangun vitalitas komunitas/masyarakat yang reflektif dan berkeadilan, yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mendasarkan keterlibatan seseorang didalam politik sebagai bagian dari kesadaran akan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hak dan kewajiban sebagai warga negara (&lt;i style=""&gt;citizen&lt;/i&gt;)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekaligus sebagai anggota komunitas masyarakat (&lt;i style=""&gt;society&lt;/i&gt;) atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang diistilahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemudian oleh Karl R. Popper sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat terbuka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;open society&lt;/i&gt;), yakni&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemunculan tipe masyarakat yang memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepercayaan baru terhadap akal, kebebasan dan persaudaraan antar semua umat manusia.&lt;i style=""&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Bukan sesuatu yang sebaliknya, yakni menganggap dan menjadikan politik sebagai sarana pertarungan kepentingan yang abadi, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;media petualangan dan sarana pemuas hasrat kekuasaan belaka, tempatnya untuk membodohi, mengeksploitasi dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memalsukan wacana (&lt;i style=""&gt;demagogie&lt;/i&gt;) dengan cara&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;mengocok dan mengaduk-aduk harapan dan kegalauan massa/rakyat. (Sehingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Umberto Echo membedakannya dengan jelas antara seseorang yang terlibat didalam politik sebagai bagian dari kepedulian, kesadaran akan hak dan kewajiban dengan sekedar menjadi profesi ”politikus”, yakni yang pertama memilki motif dan tujuan aktualisasi dan etis sedangkan tipe kedua lebih bermotif dan bertujuan sekedar mencari nafkah dan perlindungan). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sehingga disini tugas pembangunan politik adalah upaya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mendekatkan sekaligus mensejajarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerangka etis dan filosofis dari konsep politik kepada kecenderungan realitas &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kerja politik (termasuk didalamnya perilaku para politikus) didalam kehidupan yang nyata yang sehari-hari kerap kita temui.&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ada tiga indeks&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penting sebagai ciri pembangunan politik secara substantif, yakni:1). rasionalisasi wewenang, 2). diferensiasi struktur dan, 3). perluasan peranserta politik massa (Huntington, 2003). Rasionalisasi wewenang dan diferensiasi struktur adalah merupakan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tugas pembangunan politik secara strukturanl dan institusional, sedangkan perluasan peranserta politik massa lebih cenderung dikenali atau bersifat kultural dan berorientasi kemasyarakatan (&lt;i style=""&gt;society&lt;/i&gt;) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau merupakan bagian dari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;budidaya politik. Keterkaitannya, pada titik ini Pilkada langsung memilki relevansi sekaligus paralelisme &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau kalau mungkin signifikansi nilai, dimana Pilkada langsung adalah merupakan batu uji dari asusmsi dasar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dilaksanakannya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;desentralisasi politik, demokratisasi dan otonomi masyarakat (bukan sekedar otonomi daerah) dengan bagian dari tujuan pembangunan politik sendiri &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yakni perluasan peranserta politik massa,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;budidaya politik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;. Konteksnya dengan makna Pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jawa Barat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;2008 dengan pembangunan politik lokal di Jawa Barat adalah bagaimana proses pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur yang akan segera dilaksanakan ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimaknai bersama. Artinya bagaimana melalui momentum Pilkada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;itu kita dapat mempertemukan berbagai kepentingan yang ada, dan tentunya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bukan hanya kepentingan segelintir elit politik, kelompok tertentu atau tim sukses masing-masing kontestan saja, melainkan lebih jauh dapat mengakomodir seluruh pluralisme kepentingan yang ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kedalam sebuah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bingkai dan mekanisme budaya politik yang beradab (&lt;i style=""&gt;civil polities&lt;/i&gt;), sehingga hasilnya kemudian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;secara aktual dapat menjadi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hikmah bersama, menghasilkan pemimpin yang berkepemimpinan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;unggul dan amanah, dan tentunya mampu membawa masyarakat Jawa Barat khususnya kedepan kepada kehidupan yang damai dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkesejahteraan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;civil society&lt;/i&gt;). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Semoga, &lt;i style=""&gt;Amien...!&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7414436058925403270-8464332076044072066?l=ysetiawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ysetiawan.blogspot.com/feeds/8464332076044072066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7414436058925403270&amp;postID=8464332076044072066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7414436058925403270/posts/default/8464332076044072066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7414436058925403270/posts/default/8464332076044072066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ysetiawan.blogspot.com/2008/03/makna-pilgub-jabar-2008.html' title='Makna Pilgub  Jabar 2008'/><author><name>A. Yadi Setiawan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
